KAMPUNG UJOH BILANG AKU DATANG

Kampung Ujoh Bilang, Aku Datang ! 

Mahakam Ulu. Sebagian orang masih banyak yang bingung saat disebut Kabupaten Mahakam Ulu. “Dimana itu. Daerah mana.” Ya, Mahakam Ulu merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat yang berlangsung sekitar tahun 2013. Mahakam Ulu berada dalam pangkuan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Menuju ke lokasi Mahakam Ulu, bisa dibilang menantang, butuh puluhan jam melalui jalur darat. Lokasinya sangat jauh dari pusat ibukota Kaltim, Samarinda, apalagi yang berangkat dari Kota Balikpapan. Saya mencobanya, menuju ke Mahakam Ulu secara solo, melalui jalur darat dan air.

Sebelumnya berniat ingin mencoba menggunakan pesawat terbang dari Kota Balikpapan, mendarat di Bandara Melalan Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, tetapi susah mencari, memesannya butuh waktu seminggu sebelumnya, sementara saya sendiri tidak bisa menunggu lama harus segera pergi.

Pesawat yang terbang dari Balikpapan ke Melak Kutai Barat jumlah kapasitas penumpangnya terbatas sebab pesawatnya berukuran mini. Tarif terbangnya sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 800 ribu dengan daya tempuh tidak sampai 40 menit lebih.

Kampung Long Bagun yang berdekatan dengan Kampung Ujoh Bilang ibukota Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, Senin 26 November 2018 pagi. Kedua kampung juga bisa ditempuh melalui jalur darat dengan memakan waktu sekitar delapan menit.

Untungnya naik pesawat, waktu dan jarak tempuh mudah dipersingkat cepat ketimbang harus menjelajah lewat jalur darat menggunakan bus mini travel atau mobil mpv.

Naik pesawat kita nanti turun di bandara Melak, Kabupaten Kutai Barat kemudian sambung ke Dermaga Tering Seberang, Kutai Barat untuk lanjutkan menggunakan perjalanan menggunakan perahu speedboat menuju ke Kabupaten Mahakam Ulu.

Saya sendiri ke Kabupaten Mahakam Ulu, dalam rangka penugasan jurnalistik soal dinamika perkembangan masyarakat Mahakam Ulu. Daerah persinggahan yang dipilih yakni perkampungan Ujoh Bilang, sebuah ibukotanya Kabupaten Mahakam Ulu.

Berangkat dari Kota Balikpapan pada Kamis 18 Oktober 2018 malam, menggunakan travel Trans Cendana, kendaraan mini bus yang bercirikan merah maron. Memakai bus mini ini mesti merogoh kocek sebesar Rp 325 ribu. Harga ini dianggap yang paling mahal mengingat saya memilih lokasi turun di Dermaga Tering. Jika turun di Melak, tarifnya hanya dikenakan biaya Rp 275 ribu.  

Naik Trans Cendana baru pertama kalinya, dapat kursi di bagian tengah belakang. Berangkat dari Sumber Rejo Balikpapan sekitar pukul 17.30 Wita, lalu singgah ke pangkalan Trans Cendara di Ruko Pelangi B Point Jl Syarifudin Yoes, Balikpapan.

Mobil menunggu penumpang yang lain hingga sampai satu jam. Jika mobil sudah penuh penumpang, mobil travel barulah bisa jalan ke lokasi. Sekitar pukul 19.00 Wita, mobil barulah berangkat ke lokasi tujuan.

Cuaca di Balikpapan kala itu cerah, tidak turun hujan. Selama perjalanan tempuh ke Samarinda, berjalan lancar, tiada ada kemacetan total dan terhalang jalanan becek karena hujan. Sesampainya di Jl Poros Balikpapan-Samarinda kilometer 27, mobil singgah di rumah makan.

Beli tiket travel Trans Cendana ini mendapat jatah makan gratis, satu kali makan selama perjalanan ke Melak Kutai Barat. Saat berada di lokasi restoran, saya pilih menu makanan soto ayam dengan kombinasi teh hangat manis. Sedap, lumayan bisa hangatkan badan.

Selama perjalanan tak bisa tidur nyenyak. Laju kendaraan meliak-liuk, kondisi jalan rayanya yang berliku-liku dan ada beberapa lubang menganga, membuat mobil kelojotan. Belum lama memejamkan mata, hentakan goyangan mobil membangunkan konsentrasi tidur. Selama dalam perjalanan begadang.

Memasuki dini hari, Jumat 19 Oktober 2018, hujan melanda kala tiba di Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat. Guyuran hujan deras mengiri perjalanan darat menuju ke Dermaga Tering Seberang. Susana gelap, hanya terang lampu mobil, kiri kanan jalan paling banyak pemandangan belantara. Jarang sekali hunian pemukiman penduduk.

Yang dinanti akhirnya tiba, sekitar pukul 09.00 Wita tiba di Dermaga Tering Seberang. Belum saja turun dari mobil langsung disambut para penyedia jasa speedboat ke arah hulu.

Sopir travel memersilakan para pencari penumpang speedboat menjemput, pintu dibuka, langsung tas saya dibawa ke arah dermaga. Namanya Asrul, pembantu motoris speedboat ini nyatakan akan segera berangkat. “Langsung berangkat. Tinggal tunggu lima penumpang lagi,” ujarnya.

Janji tinggal janji, sudah hampir empat jam perahu tidak kunjung berangkat. Dua jam terlewati, perahu belum berangkat. Tas merah saya sudah ditaruh di badan perahu. Tiba-tiba awak perahu menjalankan mesin dan berlayar menuju ke arah hilir. Saya yang sedang duduk bersantai di dermaga kaget, kenapa perahu berangkat tanpa penumpang dan tas saya berada di speedboat.

Saya bertanya dengan orang sekitaran, yang bekerja sebagai tukang data penumpang. Bilangnya, si speedboat ke arah hilir untuk menjemput barang dan mencari penumpang di dermaga lain.

Speedboat tidak mau jalan jika penumpang sedikit, wajib bawa penumpang secara maksimal. Konsumsi bensin speedboat saja bilangnya sampai Rp 2 juta. Penumpang sedikit maka tidak akan mendapat untung, sebaliknya buntung, rugi besar.
 
Dibawa bersyukur saja. Perahu tidak langsung jalan, saya bisa berkesempatan untuk tunaikan sholat jumat terlebih dahulu di Tering Seberang. Andaikata, kala itu perahu berangkat sekitar pukul 10.00 Wita atau 11.00 Wita, kesempatan sholat wajib Jumat tak bisa dirasakan. Ambil positifnya saja. Lagi pula ke Ujoh Bilang pun tidak ada waktu yang dikejar.

Usai sholat Jumat, sekitar pukul 13.20 Wita, perahu berangkat dengan iringan cuaca yang panas. Kampung Ujoh Bilang, aku datang ! (ilo)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kibar Merah Putih Perdana di Balikpapan

SUSUR RUTE EKOWISATA BAMBOE WANADESA KARANGJOANG

GOTONG ROYONG CARI AMAN