KAMPUNG UJOH BILANG AKU DATANG
Kampung
Ujoh Bilang, Aku Datang !
Untungnya naik pesawat, waktu dan jarak tempuh mudah dipersingkat cepat ketimbang harus menjelajah lewat jalur darat menggunakan bus mini travel atau mobil mpv.
Mahakam Ulu. Sebagian orang masih banyak yang bingung
saat disebut Kabupaten Mahakam Ulu. “Dimana itu. Daerah mana.” Ya, Mahakam Ulu
merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kutai Barat yang berlangsung
sekitar tahun 2013. Mahakam Ulu berada dalam pangkuan Provinsi Kalimantan Timur
(Kaltim).
Menuju ke lokasi Mahakam Ulu, bisa dibilang menantang,
butuh puluhan jam melalui jalur darat. Lokasinya sangat jauh dari pusat ibukota
Kaltim, Samarinda, apalagi yang berangkat dari Kota Balikpapan. Saya
mencobanya, menuju ke Mahakam Ulu secara solo, melalui jalur darat dan air.
Sebelumnya berniat ingin mencoba menggunakan pesawat
terbang dari Kota Balikpapan, mendarat di Bandara Melalan Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat,
tetapi susah mencari, memesannya butuh waktu seminggu sebelumnya, sementara
saya sendiri tidak bisa menunggu lama harus segera pergi.
Pesawat yang terbang dari Balikpapan ke Melak Kutai Barat
jumlah kapasitas penumpangnya terbatas sebab pesawatnya berukuran mini. Tarif
terbangnya sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 800 ribu dengan daya tempuh tidak
sampai 40 menit lebih.
Untungnya naik pesawat, waktu dan jarak tempuh mudah dipersingkat cepat ketimbang harus menjelajah lewat jalur darat menggunakan bus mini travel atau mobil mpv.
Naik pesawat kita nanti turun di bandara Melak, Kabupaten
Kutai Barat kemudian sambung ke Dermaga Tering Seberang, Kutai Barat untuk
lanjutkan menggunakan perjalanan menggunakan perahu speedboat menuju ke
Kabupaten Mahakam Ulu.
Saya sendiri ke Kabupaten Mahakam Ulu, dalam rangka
penugasan jurnalistik soal dinamika perkembangan masyarakat Mahakam Ulu. Daerah
persinggahan yang dipilih yakni perkampungan Ujoh Bilang, sebuah ibukotanya
Kabupaten Mahakam Ulu.
Berangkat dari Kota Balikpapan pada Kamis 18 Oktober 2018
malam, menggunakan travel Trans Cendana, kendaraan mini bus yang bercirikan
merah maron. Memakai bus mini ini mesti merogoh kocek sebesar Rp 325 ribu.
Harga ini dianggap yang paling mahal mengingat saya memilih lokasi turun di
Dermaga Tering. Jika turun di Melak, tarifnya hanya dikenakan biaya Rp 275
ribu.
Naik Trans Cendana baru pertama kalinya, dapat kursi di
bagian tengah belakang. Berangkat dari Sumber Rejo Balikpapan sekitar pukul
17.30 Wita, lalu singgah ke pangkalan Trans Cendara di Ruko Pelangi B Point Jl
Syarifudin Yoes, Balikpapan.
Mobil menunggu penumpang yang lain hingga sampai satu
jam. Jika mobil sudah penuh penumpang, mobil travel barulah bisa jalan ke
lokasi. Sekitar pukul 19.00 Wita, mobil barulah berangkat ke lokasi tujuan.
Cuaca di Balikpapan kala itu cerah, tidak turun hujan.
Selama perjalanan tempuh ke Samarinda, berjalan lancar, tiada ada kemacetan
total dan terhalang jalanan becek karena hujan. Sesampainya di Jl Poros
Balikpapan-Samarinda kilometer 27, mobil singgah di rumah makan.
Beli tiket travel Trans Cendana ini mendapat jatah makan
gratis, satu kali makan selama perjalanan ke Melak Kutai Barat. Saat berada di
lokasi restoran, saya pilih menu makanan soto ayam dengan kombinasi teh hangat
manis. Sedap, lumayan bisa hangatkan badan.
Selama perjalanan tak bisa tidur nyenyak. Laju kendaraan
meliak-liuk, kondisi jalan rayanya yang berliku-liku dan ada beberapa lubang
menganga, membuat mobil kelojotan. Belum lama memejamkan mata, hentakan
goyangan mobil membangunkan konsentrasi tidur. Selama dalam perjalanan
begadang.
Memasuki dini hari, Jumat 19 Oktober 2018, hujan melanda
kala tiba di Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat. Guyuran hujan deras mengiri
perjalanan darat menuju ke Dermaga Tering Seberang. Susana gelap, hanya terang
lampu mobil, kiri kanan jalan paling banyak pemandangan belantara. Jarang
sekali hunian pemukiman penduduk.
Yang dinanti akhirnya tiba, sekitar pukul 09.00 Wita tiba
di Dermaga Tering Seberang. Belum saja turun dari mobil langsung disambut para
penyedia jasa speedboat ke arah hulu.
Sopir travel memersilakan para pencari penumpang
speedboat menjemput, pintu dibuka, langsung tas saya dibawa ke arah dermaga.
Namanya Asrul, pembantu motoris speedboat ini nyatakan akan segera berangkat.
“Langsung berangkat. Tinggal tunggu lima penumpang lagi,” ujarnya.
Janji tinggal janji, sudah hampir empat jam perahu tidak
kunjung berangkat. Dua jam terlewati, perahu belum berangkat. Tas merah saya
sudah ditaruh di badan perahu. Tiba-tiba awak perahu menjalankan mesin dan
berlayar menuju ke arah hilir. Saya yang sedang duduk bersantai di dermaga
kaget, kenapa perahu berangkat tanpa penumpang dan tas saya berada di
speedboat.
Saya bertanya dengan orang sekitaran, yang bekerja
sebagai tukang data penumpang. Bilangnya, si speedboat ke arah hilir untuk
menjemput barang dan mencari penumpang di dermaga lain.
Speedboat tidak mau jalan jika penumpang sedikit, wajib
bawa penumpang secara maksimal. Konsumsi bensin speedboat saja bilangnya sampai
Rp 2 juta. Penumpang sedikit maka tidak akan mendapat untung, sebaliknya
buntung, rugi besar.
Dibawa bersyukur saja. Perahu tidak langsung jalan, saya
bisa berkesempatan untuk tunaikan sholat jumat terlebih dahulu di Tering Seberang.
Andaikata, kala itu perahu berangkat sekitar pukul 10.00 Wita atau 11.00 Wita,
kesempatan sholat wajib Jumat tak bisa dirasakan. Ambil positifnya saja. Lagi
pula ke Ujoh Bilang pun tidak ada waktu yang dikejar.
Usai sholat Jumat, sekitar pukul 13.20 Wita, perahu
berangkat dengan iringan cuaca yang panas. Kampung Ujoh Bilang, aku datang ! (ilo)
Komentar
Posting Komentar