UJOH BILANG BUANG UANG BANGET
Ujoh Bilang, Buang
Uang Banget !
Menginjak
daratan Kampung Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu untuk pertama kalinya, Jumat
19 Oktober 2018 sore, sekitar pukul 17.00 Wita. Gapura terpampang jelas
bertuliskan Ujoh Bilang. Perkampungan ini pun dibanjiri bendera partai politik,
maklum saja sebentar lagi akan melewati pesta demokrasi pemilihan legislatif
dan presiden dan wakil presiden.
Susuri
jalanan bingung, mau mencari penginapan. Saya pun mengubungi Rosi, seorang
pegawai negeri sipil di Pemkab Mahakam Ulu, menanyakan keberadaan tempat penginapan
atau kosan.
Saya
lebih memilih tempat kosan ketimbang penginapan sebab dibandingkan harganya,
untuk harga di Mahakam Ulu jelas jauh lebih murah yang kosan. “Dari dermaga
belok ke kiri. Terus saja. Ada Bank Kaltimtara, depannya lewat sedikit ada kosan
Ariel. Ada kamar yang kosong, bisa dipakai,” ungkap Rosi.
Berkat
petunjuk ayah beranak dua ini, saya pun melacaknya dengan berjalan kaki sambil
membawa barang bawaan tiga tas yang berisi berbagai perlengkapan pakaian. Jalan
yang disusuri ini bernama Jl Bang Juk.
Udara
sore yang adem, memberi kenikmatan melewati beberapa pemukiman warga. Rumah
penduduk berbahan baku kayu model panggung dan jejeran beberapa toko telah ramai.
Tidak
berlangsung sampai satu jam, ketemu kosan yang dicari. Lusi penjaga rumah
kosannya. Ditawarkan beberapa kamar yang ragam harga. Ada yang paling mahal Rp
1.300.000 yang bisa diisi oleh dua orang dengan sebuah kasur springbed.
Saya
pun lebih memilih harga kamar kosan yang Rp 1.100.000 dengan fasilitas sebuah
kasur busa, lemari kecil dari tripleks dan meja kecil. Rumah kosan berlantai
dua, di sampingnya ada pohon rambutan hijau yang tumbuh rindang.
Bangunannya
persis membelakangi Sungai Mahakam Ulu. Bahkan suara raungan mesin speedboat
dan perahu ketinting pun nyaring terdengar dari tempat kosan.
Ujoh
Bilang ini masih perkampungan namun harga-harga yang berlaku bak di luar negeri
seperti di Singapura atau Dubai. Mencari rumah makan yang sajikan kuliner bagi
muslim sudah banyak. Setiap di pinggir Jl Bang Juk, mudah sekali temukan tempat
rumah makan.
Jangan
kaget, gaya rumah makan biasa saja, tidak lux dan kualitas makanannya pun
standar tetapi harganya sangat mencekik. Terbilang tinggi jika dibandingkan
dengan harga-harga di Kota Balikpapan apalagi di pulau jawa.
Sebagai
contoh, saya mencoba membeli menu makanan lalapan ayam dengan minuman teh
hangat di warung Lamongan Barokah harganya mencapai Rp 35 ribu. Pernah juga
jajan di warung nasi Marisa kepunyaan orang Banjar, pilih menu makanan nasi
campur sistem prasmanan, harganya sama Rp 35 ribu. Rata-rata harga makanan di
Ujoh Bilang bandrolnya Rp 35 ribu.
Jika
ingin benar-benar kenyang, bagusnya pilih tempat makan warung Banjar. Dari
dermaga Ujoh Bilang ambil jalan ke kiri, Jl Bang Juk. Tidak jauh dari
perempatan jalan ini, rumah makan Banjar bisa ditemui. Sistem prasmanan bisa
mengambil makan sepuasnya, mengambil nasi banyak yang bisa membuat kenyang
sesuai selera porsi sendiri.
Menu
makanan ayam goreng, sambal tempe, sayur bening dan minuman teh manis dikenakan
biaya Rp 35 ribu. Barangkali tempat ini rumah makan yang termurah, dengan harga
Rp 35 ribu bisa makan super kenyang.
Tapi
ini hanya makan saja, belum lagi kalau beli tambahan untuk beli air minum
kemasan harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per botol. Jika diakumulasikan
rata-rata biaya hidup per hari untuk konsumsi sekitar Rp 80 ribu, cuy. Berat,
hidup yang teramat menjepit.
Ketimbang
makan pilih menu paketan, nasinya sudah dijatah. Orang yang besar pasti belum
merasa puas. Keunggulannya, menu nasi paketan seperti ayam lalapan, soto ayam,
nasi goreng, tersaji masih dalam kondisi hangat matang, segar.
Sementara
harga air mineral kemasan yang ukuran satu setengah liter harganya Rp 10 ribu
per botol, padahal kalau di Kota Balikpapan harganya cuma Rp 6 ribu saja. Saya
beli hanger pakaian enam biji termasuk jepitan jemuran, menghabiskan biaya
sampai Rp 40 ribu.
Luar
biasa mahalnya ! Jika di Pulau Jawa yang namanya desa biasanya harga-harga
murah meriah ketimbang di perkotaan. Berbeda di Pulau Kalimantan, sebuah desa
atau kampung pasti harga-harga konsumsi sangat tinggi, mahal tak karuan. Tidak
percaya ? Silakan coba sendiri.
Sering
kali orang tidak mengira, berapa harga yang harus dirogoh dalam saku celana
untuk kunjungi kampung Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu. Daerah ini tidak
banyak dikenal orang, jarang menjadi pembicaraan orang.
Ujoh
Bilang tempat nan jauh disana, terpencil, dekat perbatasan dengan negara
tetangga Malaysia. Kesan yang muncul pada banyak orang bahwa Mahakam Ulu masih
hutan belantara, uang seakan tidak ada harganya.
Mendatangi
Ujoh Bilang biasanya karena sesuatu hal, untuk kepentingan pekerjaan atau untuk
bertemu saudara yang memang sudah lama bertinggal dan menetap lama di perkampungan
Ujoh Bilang.
Orang
yang datang untuk berwisata, apalagi untuk mencari tempat tinggal selamanya
rasannya jarang sekali, kecuali jika ada orang yang rezekinya ada di Ujoh
Bilang pastinya mau menetap lama di sini. Ada orang yang sudah sukses di Ujoh
Bilang lalu mengajak sanak familinya untuk meramaikan perkampungan Ujoh Bilang.
Banyak
orang-orang pendatang seperti orang dari pulau Jawa mencari peruntungan rezeki
berdagang, mengawali dari nol yang berujung ada yang laku sukses kemudian mampu
membeli sebidang tanah membangun rumah dan warung, serta usaha rumah penginapan
dan kosan. Benar-benar menginspirasi. (ilo)
Komentar
Posting Komentar